Sunday, 20 December 2015

Masih Layakkah Go-Jek Menggadang-gadang Ekonomi Kerakyatan ketika Investasi Asing ada dibalik Startup Mereka?


First of all, I want to stress to the fact that this isn't a hate speech at all. Saya merupakan salah satu pengguna jasa Go-Jek walaupun termasuk konsumen baru; hanya untuk 1-2 bulan terakhir ini. Menurut saya kemunculan Go-Jek amatlah membantu baik itu dari kacamata customers maupun drivers nya, terlepas dari kontroversi antara Go-Jek dan ojek konvensional, berbagai keluhan aplikasi Go-Jek terutama di awal-awal peluncuran aplikasi Go-Jek, dan masih banyak kasus lagi. Jadi, dari segi pemanfaatan jasa, saya sepenuhnya mendukung ojek dan moda sarana transportasi berbasis online.


Pada tanggal 18 Desember 2015 Kemenhub melarang Go-Jek dan startup ojek online lainnya untuk beroperasi karena alasan keselamatan penumpang, namun tak lama kemudian Presiden Jokowi sendiri lah yang turun tangan meminta Kemenhub mencabut larangan dikarenakan moda transportasi ojek telah diterima dan telah menjadi bagian dari opsi transportasi yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia. Permintaan Presiden Jokowi tentunya disertai dengan berbagai ketentuan yaitu poin-poin tertentu untuk meregulasi operasi ojek online supaya teratur. 


Yang membuat saya "gatal" ingin membuat postingan ini hanya karena statement dari CEO dan Co-Founder Go-Jek, Nadiem Makarim via jejaring sosial facebook tak lama setelah pencabutan larangan operasi Go-Jek dan ojek online lainnya, dimana ia berterima kasih atas kebijakan Presiden Jokowi sembari menyatakan bahwasanya startup Go-Jek merupakan startup berbasis ekonomi kerakyatan yang patut dibela. Hal itu terdengar janggal bagi segelintir orang yang mengetahui fakta dimana Go-Jek menerima dana investasi asing (bukan berarti menerima modal asing itu hal yang buruk, lho). Go-Jek memang dinilai kurang transparan mengenai siapa saja investornya entah apa itu motifnya. FYI, di dalam bisnis startup merupakan hal yang amat sangat lazim untuk menerima dan/atau mengirim proposal kepada perusahaan investor karena bagaimanapun bagi startup company proses R&D, marketing, dan lain sebagainya pastilah membutuhkan dana yang tidak sedikit. Jika ingin berbaik sangka, mungkin yang dimaksud Go-Jek berbasis ekonomi kerakyatan oleh Nadiem adalah Go-Jek sebagai startup hasil karya anak bangsa Indonesia, yang mengkaryakan sumber daya manusia Indonesia, yang digunakan dan dimanfaatkan oleh konsumen yakni rakyat Indonesia itu sendiri. 


CMIIW--tak perlu bertameng pada label atau atribut yang berbau kerakyatan hanya untuk meraup dukungan mayoritas. Selama karya anak bangsa Indonesia bermanfaat dan tidak merugikan pihak manapun termasuk Indonesia, tidak ada salahnya untuk didukung. 




P.S. sorry for the indecent picture design, I have to make it on my phone since I dont have photo editor software